Pascaserangan Rudal Iran ke Pangkalan Militer AS di Irak, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Serangan Rudal Tersebut Kemungkinan Akan Memicu Kekhawatiran Terjadinya Perang Antara AS dan Iran.
Pascaserangan Rudal Iran ke Pangkalan Militer AS di Irak, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Presiden Donald Trump. (Istimewa)

Jakarta, Nusantaratv.com - Iran merespon Amerika Serikat (AS) atas peristiwa pembunuhan pejabat militernya Jenderal Qassem Soleimani, dengan menembakkan puluhan rudal balistik di dua pangkalan militer AS di Irak, pada Selasa (7/1/2020) malam waktu setempat.

Langkah ini kemungkinan akan memicu kekhawatiran terjadinya perang antara AS dan Iran, namun pensiunan militer Kolonel Stephen Ganyard, yang juga mantan pilot pesawat tempur dan analis militer ABC News, mengatakan apa yang terjadi selanjutnya akan sangat bergantung pada kerusakan yang ditimbulkan pascaserangan rudal yang ditembakan ke Pangkalan Udara Erbil di Irak utara dan Pangkalan Udara Ain Al-Asad di Irak barat.

"Itu tergantung pada apa yang mereka tembakkan. Jika tembakkan itu tidak mengenai apa-apa, maka situasinya bisa menurun. Jika mengenai sesuatu yang substansial dan menyakiti orang Amerika, maka mereka bisa berharap ini mengarah pada pembalasan AS yang signifikan," ujar Ganyard.

Ganyard juga menyebut Iran menyerang sesuatu yang tampaknya menjadi target paling tidak mungkin, dimana mereka tahu sesuatu yang tidak dipertahankan dengan baik. Sedangkan Gedung Putih mengatakan mereka mengetahui adanya laporan serangan rudal itu.

"Kami mengetahui laporan serangan terhadap fasilitas AS di Irak," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Stephanie Grisham dalam sebuah pernyataan. 

"Presiden telah diberi pengarahan dan sedang memantau situasi dengan cermat dan berkonsultasi dengan tim keamanan nasionalnya," lanjutnya.

Baca Juga: Makin Panas, Iran Tembakan Puluhan Rudal ke Militer AS di Irak

Sebuah pernyataan dari Departemen Pertahanan mengatakan mereka masih bekerja guna menghitung kerusakan yang terjadi akibat serangan rudal tersebut.

Sebuah sumber dalam Pemerintah Daerah Kurdistan mengonfirmasi kepada ABC News bahwa tiga rudal telah ditembakkan di Bandara Internasional Erbil dan pangkalan militer AS yang berdekatan, tetapi dua rudal ditembak jatuh oleh perangkat anti-rudal dan yang ketiga jatuh di belakang bandara dan meledak.

Masih belum jelas kerugiaan yang dialami di Pangkalan Udara Ain Al-Asad, dimana Ganyard mengatakan lokasi tersebut terisolasi dan memiliki pasukan yang relatif lebih sedikit daripada pangkalan militer AS lainnya sejak Negara Adikuasa itu mulai menarik pasukan dari Irak.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan mengungkap setiap invasi dan agresi baru akan menghasilkan respons yang lebih menyakitkan dan menggemparkan dan mendesak orang-orang Amerika untuk menarik pasukannya dari wilayah tersebut guna mencegah korban lebih banyak dan hancurnya pangkalan militer tersebut.

Sementara itu, dua pejabat AS mengatakan kepada ABC News bahwa sejauh ini belum ada laporan tentang korban di pihak AS.

Sedangkan kontibutor ABC News Mick Mulroy, yakni mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan untuk Timur Tengah, mengatakan pernyataan dari Korps Pengawal Revolusi tampaknya serangan rudal merupakan upaya untuk mengakhiri konflik, meskipun diakuiny bahawa mereka juga telah menerima kemungkinan itu.

"Saya percaya Gedung Putih akan melihat tingkat kerusakan dan khususnya korban dari AS," tutur Mulroy. 

"Jika tidak ada korban, ini mungkin. Jika ada korban, atau jika intel menunjukkan gelombang lain, mereka mungkin bertindak lebih dulu untuk mengurangi atau menghilangkan ancaman rudal balistik," sebutnya.

Pemogokan terjadi di Iran, yang disebut Operasi Martir Soleimani, terjadi beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan kepada ABC News 'Martha Raddatz bahwa AS akan membayar untuk tindakannya dan mereka harus bersiap menerima konsekuensinya setelah membunuh Soleimani setelah menerima serangan udara AS, pekan lalu.

Pemerintahan Trump telah membela pemogokan dan mengetahui rencana pendukung Soleimani untuk melakukan serangan yang mungkin terjadi terhadap personil militer dan diplomat AS di wilayah tersebut.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0